Mengenal Preeklamsia dan Penyebabnya

Mengenal Preeklamsia dan Penyebabnya

Preeklamsia merupakan salah satu kondisi yang dapat berakibat fatal bagi ibu hamil dan ditandai dengan hipertensi. Hingga tahun 2016, kondisi ini masih menjadi penyebab utama kematian ibu di Indonesia, yaitu sebesar 33%. Karenanya, penting bagi ibu yang tengah mengandung untuk mengenal preeklamsia dan penyebabnya.

Sebagai langkah antisipasi, Anda bisa menghubungi layanan homecare Kavacare di nomor Whatsapp 0811-1466-777 untuk mulai konsultasi dengan tenaga medis profesional. Dapatkan layanan seperti cek darah di rumah untuk kemudahan Anda dan orang terkasih.

 

Apa Itu Preeklamsia?

Berdasarkan American College of Obstetric and Gynecology (ACOG), definisi preeklamsia adalah kondisi terjadinya tekanan darah tinggi dan kelebihan protein pada 20 minggu kehamilan pada pasien yang tadinya mempunyai tekanan darah normal.

Namun, cukup banyak pula wanita yang mengalami gejala sistemik preeklamsia, seperti penurunan jumlah trombosit dalam darah atau peningkatan enzim hati, sebelum tanda-tanda kelebihan protein muncul. Kondisi ini dapat berakibat fatal, maka Anda perlu mengenal preeklamsia dan penyebabnya.

Gejala Preeklamsia

Gejala-gejala yang terlihat pada preeklamsia adalah hipertensi, proteinuria, atau tanda-tanda kerusakan ginjal dan/atau organ tubuh lainnya. Tanda-tanda awal preeklamsia kadang tidak terlihat dan baru terdeteksi selama kontrol kehamilan rutin dengan dokter.

Preeklamsia biasanya diawali dengan hipertensi (tekanan darah tinggi) dan proteinuria (kelebihan protein dalam urin) selama trimester ketiga kehamilan. Kondisi ini dapat berakibat fatal dan menyebabkan komplikasi serius, termasuk kematian pada ibu dan janin.

Selain gejala-gejala di atas, ada pula tanda-tanda dan gejala-gejala untuk mengenali preeklamsia, yaitu:

  • Kelebihan protein pada urin (proteinuria) atau tanda-tanda masalah ginjal lainnya;
  • Menurunnya tingkat trombosit dalam darah (trombositopenia);
  • Meningkatnya enzim hati yang menunjukkan adanya gangguan hati;
  • Sakit kepala yang berlebihan;
  • Perubahaan dalam daya pandang, termasuk kehilangan daya penglihatan sementara, penglihatan yang kabur atau sensitivitas terhadap cahaya;
  • Napas pendek-pendek, disebabkan oleh cairan pada paru-paru;
  • Rasa sakit pada perut bagian atas, biasanya di bawah tulang rusuk bagian kanan;
  • Mual dan muntah.

 

Meningkatnya berat badan dan terjadinya pembengkakan pada tubuh adalah normal selama kehamilan. Namun, apabila hal ini terjadi secara mendadak, terutama pada bagian wajah dan tangan, maka ada kemungkinan bahwa Anda mengalami preeklamsia.

Penyebab Preeklamsia

Penyebab preeklamsia sendiri sampai saat ini masih belum ditemukan secara pasti, tetapi ada beberapa yang dianggap menjadi faktor penyebab adanya disfungsi endotel yang mengakibatkan hipertensi, proteinuria, dan edema. Sindrom ini juga terjadi akibat gabungan antara beberapa mekanisme yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Mengenal preeklamsia dan penyebabnya dapat membuat Anda menghindari kondisi ini. Berikut ini adalah teori-teori tentang penyebab preeklamsia:

1. Kelainan Vaskularisasi Plasenta

Pada masa kehamilan, terjadi invasi sel-sel trofoblas yang membuat pembuluh darah arteri spiralis menjadi besar dan elastis. Teori kelainan vaskularisasi plasenta ini menyatakan bahwa hipertensi mengakibatkan proses ini berlangsung tidak normal sehingga membuat lapisan otot spiralis menjadi keras dan kaku. Hal ini mengakibatkan lumen arteri spiralis, atau saluran di bawah pembuluh darah arteri spiralis, mengalami penyempitan dan terjadi kegagalan dalam remodeling (pembentukan ulang) arteri spiralis. Aliran darah dari rahim ke plasenta (uteroplasenta) menurun dan mengakibatkan hipoksia dan iskemi plasenta, yaitu kondisi di mana kadar oksigen dalam plasenta menurun.

2. Iskemia Plasenta, Radikal Bebas, dan Disfungsi Endotel

Seperti teori sebelumnya, teori ini menyatakan adanya kegagalan remodeling arteri spiralis yang menyebabkan iskemia dan hipoksia yang lalu menghasilkan oksidan atau radikal bebas berupa peroksida lemak (lemak yang mengalami oksidasi). Peroksida lemak ini kemudian beredar di dalam aliran darah dan merusak membran sel endotel sehingga merusak fungsi endotel, yaitu merelaksasi pembuluh darah. Inilah yang disebut disfungsi endotel.

3. Intoleransi Imunologik antara Ibu dan Janin

Salah satu teori penyebab preeklamsia yang lain adalah intoleransi imunologik, yaitu terjadinya penurunan ekspresi HLA-G (Human Leukocyte Antigen-G). HLA-G sendiri berfungsi untuk menghambat respon imun ibu terhadap janin.

Penelitian dari Goldman-Wohl, dkk. pada tahun 1999, 9 dari 10 plasenta yang mengalami preeklamsia memiliki sedikit ekspresi HLA-G atau sama sekali tidak mempunyai ekspresi HLA-G. Kondisi ini juga menghambat invasi trofoblas ke dalam desidua, yaitu lapisan kulit dalam pada rahim.

4. Adaptasi Kardiovaskular

Pada hamil normal pembuluh darah tidak peka terhadap rangsangan bahan bahan vasopresor, seperti Vasopressin, Phenylephrine, Epinephrine, Norepinephrine, Dopamine, Angiotensin-II, dan Terlipressin. Namun, pada kasus hipertensi pada kehamilan, tubuh justru meningkatkan kepekaan terhadap bahan-bahan tersebut.

5. Stimulus Inflamasi

Pada umumnya, plasenta akan melepaskan debris trofoblas sebagai sisa proses apoptosis dan neurotik trofoblas, yaitu proses kematian sel terprogram, yang terjadi sebagai akibat reaksi stres oksidatif. Debris ini akan menimbulkan proses inflamasi (peradangan), walaupun hal ini masih terjadi dalam tingkat yang normal. Namun, ada kondisi dimana terjadi peningkatan stres oksidatif yang mengakibatkan produksi debris ini meningkat sehingga memicu terjadinya preeklamsia.

Komplikasi Preeklamsia

Kondisi preeklamsia ini dapat diikuti dengan komplikasi-komplikasi lain. Berikut ini adalah komplikasi yang dapat terjadi:

1. Hambatan Pertumbuhan Janin

Preeklamsia mempengaruhi arteri yang membawa darah ke plasenta. Apabila plasenta tidak mendapatkan darah yang cukup, bayi dapat kekurangan darah dan oksigen serta kekurangan gizi yang diperlukan. Hal ini dapat menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan bayi.

2. Kelahiran Prematur

Kondisi preeklamsia juga dapat menyebabkan kelahiran prematur, umumnya sebelum masa kandungan mencapai 37 minggu. Selain itu, melakukan kelahiran prematur juga adalah salah satu cara untuk mengatasi kondisi ini. Namun, kelahiran prematur dapat meningkatkan resiko pernapasan dan kesulitan makan, masalah penglihatan atau pendengaran, kelambatan tumbuh-kembang, dan cerebral palsy.

3. Abrupsio Plasenta

Abruptio plasenta adalah kondisi di mana plasenta terpisah dari dinding dalam rahim sebelum kelahiran. Preeklamsia dapat meningkatkan resiko terjadinya abruptio plasenta, yang selanjutnya dapat mengakibatkan pendarahan hebat yang fatal bagi ibu dan bayi.

4. Sindrom HELLP

HELLP sendiri merupakan singkatan dari Hemolysis (rusaknya sel darah merah), Elevated Liver Enzymes and Low Platelet Count atau  Hemolisis, Peningkatan Enzim Hati dan Jumlah Trombosit yang rendah. Kondisi preeklamsia yang parah dapat mempengaruhi sistem organ ini dan dapat membahayakan nyawa ke ibu dan bayi, bahkan menyebabkan masalah kesehatan yang berkelanjutan seumur hidup ibu.

Gejala dari sindrom ini adalah mual dan muntah, sakit kepala, rasa sakit pada perut bagian atas, dan rasa tidak nyaman pada umumnya ketika Anda tengah sakit. Kadang-kadang sindrom ini muncul secara mendadak, bahkan sebelum tekanan darah tinggi terdeteksi, atau muncul tanpa ada gejala sebelumnya.

5. Eklamsia

Eklamsia adalah serangan awal dari kejang-kejang atau koma dengan tanda-tanda atau gejala-gejala preeklamsia dan kondisi ini dapat terjadi tanpa ada tanda-tanda preeklamsia sebelumnya, jadi sangat sulit memprediksi apakah preeklamsia akan berkembang menjadi eklamsia. Tanda-tanda dan gejala-gejala yang mungkin muncul sebelum kejang termasuk sakit kepala berlebihan, masalah pada penglihatan, kebingungan mental atau perubahan perilaku. Kondisi eklamsia seringkali berakhir dengan kematian Ibu dan janinnya apabila tidak ditangani dengan segera.

6. Kerusakan Organ Lain

Preeklamsia juga dapat merusak organ-organ lain, seperti ginjal, hati, paru-paru, jantung, atau mata, dan dapat mengakibatkan stroke atau cedera kepala lainnya. Tingkat kerusakan ini bergantung pada seberapa parah preeklamsia yang dialami. Kerusakan ini karena preeklamsia menyebabkan glomerular endotheliosis (pembesaran sel endotel), meningkatnya permeabilitas (kemampuan partikel menembus membran) pembuluh darah, dan respons peradangan sistemik.

7. Penyakit Kardiovaskular

Kondisi ini juga dapat diikuti dengan peningkatan resiko penyakit jantung dan kardiovaskular di kemudian hari. Resiko ini bisa jadi lebih tinggi apabila Anda pernah mengalami preeklamsia sebelumnya atau Anda mengalami kelahiran prematur.

Pertanyaan tentang Preeklamsia

Apakah Preeklamsia Bisa Sembuh?

Preeklamsia sendiri dapat sembuh hanya setelah melahirkan bayi. Setelah memperoleh diagnosis preeklamsia, maka dokter akan mengawasi dan memberikan penanganan untuk mengendalikan kondisi ini. Umumnya, untuk mengendalikan preeklamsia, dokter akan memberikan obat tekanan darah tinggi, sesuai dengan petunjuk dokter. Dokter juga mungkin akan meresepkan obat antikonvulsan (obat yang menghambat kejang) apabila kondisi preeklamsia cukup parah dan bayi Anda akan lahir dalam 24 jam, atau apabila Anda mengalami kejang demam.

Kapan Preeklamsia Terdeteksi?

Preeklamsia dapat terjadi lebih awal, seperti usia kandungan 24 minggu, tetapi rata-rata kondisi ini terdiagnosis sekitar masa kandungan 28 hingga 30 minggu. Tes yang dilakukan untuk mendiagnosis preeklamsia dapat berlangsung dari 8 hingga 10 minggu sebelum kondisi ini benar-benar didiagnosis.

Apakah Saat Preeklamsia Harus Melahirkan Secara Sesar?

Dokter kandungan akan memberikan rekomendasi untuk segera dilakukan tindakan operasi sesar apabila pada Ibu hamil didapatkan kondisi preeklamsia, karena kondisi ini dapat memburuk dalam waktu singkat. Sangat jarang proses persalinan normal dilakukan pada kondisi preeklamsia. Berikut ini adalah alasan-alasan mengapa dokter menyarankan untuk dilakukan operasi sesar:

  • Perubahan pada detak jantung bayi;
  • Posisi bayi yang tidak biasa;
  • Ibu mengandung lebih dari dua bayi;
  • Terdapat masalah pada plasenta;
  • Tali pusat yang turun dan menutupi jalan lahir;
  • Terdapat masalah kesehatan;
  • Hambatan dalam jalur lahir, seperti fibroid (jaringan otot rahim yang membesar) dan menghambat jalan lahir atau kepala bayi yang terlalu besar (hidrosefalus);
  • Ibu telah melakukan operasi caesar atau operasi lain pada rahim sebelumnya.

Berapa Lama Efek Preeklamsia Setelah Melahirkan?

Biasanya, kondisi preeklamsia akan mereda sendiri setelah melahirkan dan membutuhkan waktu sekitar 6 minggu sebelum gejala-gejala tersebut reda. Namun, ada kalanya tekanan darah tinggi justru semakin memburuk pada beberapa hari pertama setelah kelahiran dan ibu masih menghadapi kecenderungan untuk terserang preeklamsia hingga 6 minggu setelah melahirkan. Kondisi ini dinamakan postpartum preeklamsia dan dapat beresiko pada kematian.

Apa Bedanya Preeklamsia dan Eklamsia?

Sementara keduanya adalah gangguan pada kehamilan yang terkait dengan tekanan darah tinggi, preeklamsia dan eklamsia adalah kondisi yang berbeda. Preeklamsia merupakan peningkatan tekanan darah tinggi yang terjadi secara mendadak, sedangkan eklamsia merupakan efek lanjutan pada preeklamsia, yang menunjukkan gejala lebih parah, seperti kejang atau koma.

(Artikel ini telah direview oleh dr. Albert Novianto, Care Pro & Dokter Umum di Kavacare)

Sumber:

  1. https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/CIRCRESAHA.118.313276 (28 November 2022)
  2. https://cen.acs.org/articles/91/i48/Early-Detection-Preeclampsia.html (28 November 2022)
  3. https://cjasn.asnjournals.org/content/2/3/543 (28 November 2022)
  4. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/c-section/about/pac-20393655 (28 November 2022)
  5. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/preeclampsia/symptoms-causes/syc-20355745   (28 November 2022)
  6. https://www.nhs.uk/conditions/pre-eclampsia/treatment/ (28 November 2022)
  7. http://portalporoskebijakan.litbang.kemkes.go.id/show/2921 (28 November 2022)
  8. http://eprints.undip.ac.id/50772/3/Prika_Maulina_Agaristi_22010112130211_Lap.KTI_Bab2.pdf (28 November 2022)
Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest