Ginjal merupakan salah satu organ yang paling rentan terdampak komplikasi diabetes, dan kerusakannya sering berjalan diam-diam tanpa gejala. Karena itu, pemeriksaan albumin urin pada pasien diabetes menjadi salah satu pemeriksaan rutin yang dianjurkan bagi penderita diabetes. Artikel ini membahas pemeriksaan albumin urin secara lengkap, mulai dari fungsi, cara membaca hasil, prosedur pengambilan sampel, sampai kapan pemeriksaan ini diperlukan.
Albumin adalah protein yang secara normal beredar di dalam darah. Ginjal yang sehat berfungsi sebagai penyaring: limbah dibuang lewat urin, sementara protein seperti albumin ditahan agar tetap di dalam tubuh. Bila penyaring ini mulai rusak, sedikit albumin bisa bocor ke urin. Kondisi ini disebut albuminuria, dan pada tahap awal sering disebut mikroalbuminuria.
Pada penderita diabetes, kadar glukosa darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Adanya albumin dalam urin menjadi salah satu tanda paling awal bahwa ginjal mulai rusak.
Pemeriksaan albumin urin punya beberapa fungsi penting, meliputi:
Pemeriksaan yang paling sering dipakai adalah rasio albumin terhadap kreatinin dalam urin/ urinary albumin creatinine ratio (UACR) atau biasa disebut mikroalbumin urin. Kreatinin dipakai sebagai pembanding agar hasil tidak terpengaruh oleh pekat atau encernya urin. Secara umum, hasilnya dikelompokkan sebagai berikut.
Satu hasil yang meningkat belum cukup untuk menyimpulkan adanya kerusakan ginjal. Dokter umumnya meminta pemeriksaan ulang dalam beberapa bulan untuk memastikan hasilnya menetap, dan menilainya bersama pemeriksaan fungsi ginjal seperti kreatinin dan eGFR.
Ada dua jenis sampel urin yang umum dipakai.
Pemeriksaan albumin urin diabetes biasanya dikombinasikan dengan pemeriksaan lain, seperti kreatinin dan eGFR untuk menilai fungsi ginjal, serta HbA1c dan glukosa darah untuk menilai pengendalian diabetes. Pada evaluasi diabetes, dokter juga kadang meminta pemeriksaan C-peptide, yang menggambarkan kemampuan tubuh memproduksi insulin. Pemeriksaan ini berbeda tujuannya dari albumin urin, tetapi sering dibahas dalam konteks yang sama.
Prosedur pemeriksaan albumin urin diabetes dengan sampel urin sewaktu relatif sederhana.
Untuk urin 24 jam, laboratorium akan memberikan wadah besar dan instruksi khusus. Umumnya Anda membuang urin pertama saat mulai penampungan, lalu menampung seluruh urin berikutnya sampai batas waktu 24 jam, dengan penyimpanan sesuai petunjuk laboratorium.
Beberapa kondisi dapat membuat albumin dalam urin meningkat sementara, sehingga hasilnya kurang mencerminkan kondisi sebenarnya.
Beri tahu petugas bila Anda mengalami kondisi tersebut atau sedang mengonsumsi obat tertentu. Dokter atau petugas dapat menyarankan menunda pemeriksaan sampai kondisi membaik.
Pemeriksaan albumin urin diabetes umumnya dianjurkan pada kelompok berikut.
Pada penderita diabetes, pemeriksaan albumin urin diabetes umumnya dilakukan setahun sekali. Frekuensinya bisa lebih sering bila hasil sebelumnya meningkat atau bila dokter menganjurkannya.
Hasil yang meningkat tidak perlu langsung dianggap sebagai kerusakan ginjal permanen. Langkah yang umumnya dilakukan adalah:
Deteksi dini memberi peluang lebih besar untuk memperlambat kerusakan ginjal, sehingga hasil yang meningkat sebaiknya ditindaklanjuti, bukan diabaikan.
Laboratorium Westerindo menyediakan sejumlah pemeriksaan yang berkaitan dengan albumin urin diabetes dan evaluasi ginjal, antara lain mikroalbumin urin / rasio albumin kreatinin urin, protein urin kuantitatif, kreatinin dan eGFR, HbA1c, serta C-peptide. Kalau Anda ingin melihat pemeriksaan yang tersedia, Anda bisa membuka halaman layanan Laboratorium Westerindo dan berkonsultasi dengan petugas atau dokter untuk menentukan pemeriksaan yang sesuai dengan kondisi Anda.
Catatan: artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter atau tenaga medis profesional.
More Info: https://westerindo.com/layanan/detail/laboratorium
Article ini telah di baca sebanyak : 14