Selamat Datang di Laboratorium Klinik Westerindo

Jam Buka : Senin - Jumat 07.00 - 21.00, Sabtu 07.00 - 18.00
Kontak : 021-7392345 | 021-7255080 | WA 0877 5000 2522



The Silent Killer!


Hipertensi adalah nama lain dari tekanan darah tinggi. Tekanan darah itu sendiri adalah kekuatan aliran darah dari jantung yang mendorong dinding pembuluh darah (arteri). Kekuatan tekanan darah ini bisa berubah dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh aktivitas apa yang sedang dilakukan jantung (misalnya sedang berolahraga atau dalam keadaan normal/istirahat) dan daya tahan pembuluh darahnya.

 

American Heart Association (AHA) menyebutkan, hipertensi ditandai dengan tekanan darah sistolik sama dengan atau di atas 130 mmHg dan tekanan darah diastolik sama dengan atau di atas 80 mmHg, Sebelum dinyatakan mengidap penyakit ini, seseorang perlu melewati pemeriksaan darah 3 kali berturut-turut dalam waktu berbeda.  Tekanan darah yang terlalu tinggi akan mengganggu sirkulasi darah.

 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut angka penderita tekanan darah tinggi saat ini terus meningkat secara global. Peningkatan orang-orang dewasa di seluruh dunia yang akan mengidap hipertensi diprediksi melonjak hingga 29 persen pada tahun 2025. Peningkatan kasus hipertensi juga terjadi di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) milik Kemenkes RI tahun 2013 menunjukkan bahwa 25,8 persen penduduk Indonesia mengidap hipertensi. Laporan Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) menunjukkan angka pengidapnya meningkat jadi 32,4 persen. Ini artinya ada peningkatan sekitar tujuh persen dari tahun-tahun sebelumnya. Angka pasti di dunia nyata mungkin bisa lebih tinggi dari ini karena banyak orang yang tidak menyadari mereka memiliki tekanan darah tinggi.

 

Penderita hipertensi biasanya tidak menunjukkan ciri apapun atau hanya mengalami gejala ringan. Namun secara umum, gejala hipertensi adalah sakit kepala, pusing, penglihatan buram, mual, detak jantung tak teratur, kelelahan, nyeri dada, sulit bernapas, sensasi berdetak di dada, leher, atau telinga.

 

Hipertensi yang penyebabnya tidak jelas disebut hipertensi primer. Tapi tekanan darah tinggi juga bisa disebabkan oleh gaya hidup dan pola makan yang buruk. Kebanyakan makan makanan asin, yang mengandung natrium (makanan olahan, makanan kalengan, fast food), dan makanan atau minuman yang mengandung pemanis buatan juga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi juga bisa muncul sebagai efek samping obat gagal ginjal dan perawatan penyakit jantung. Kondisi ini disebut hipertensi sekunder. Pada wanita hamil, penggunaan Pil KB, mengkonsumsi obat flu dan penggunaan terapi pengganti hormon juga bisa menyebabkan tekanan darah tinggi.

 

Pengobatan hipertensi penting untuk mengurangi risiko kematian karena penyakit jantung. Dilansir dari rilis media yang diunggah pada laman PD PERSI, dikatakan bahwa penurunan tekanan darah hingga 2 mmHg bisa mengurangi 7 persen risiko kematian akibat serangan jantung dan 10% risiko kematian akibat stroke. Untuk dapat dirasakan manfaatnya maka obat darah tinggi harus dikonsumsi rutin dengan dosis yang tepat. Di sisi lain, gejala hipertensi tak melulu harus ditangani dengan obat-obatan medis. Di samping konsumsi obat-obatan, Anda juga harus melakukan perubahan gaya hidup positif seperti diet seimbang dan rendah garam, olahraga teratur, tidak merokok dan tidak minum alcohol, dan berusaha menurunkan berat badan jika Anda mengalami obesitas.

 

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), pertumbuhan industri makanan olahan memberi dampak pada jumlah garam yang dikonsumsi oleh orang-orang. Hal ini turut berperan pada kejadian hipertensi. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap orang untuk mengatur asupan jumlah garam agar terhindar dari hipertensi, apalagi bila orang tersebut sudah mengidap hipertensi sebelumnya.  The National Heart, Lung, Blood Institute (NHLBI) di Amerika menganjurkan bagi pengidap hipertensi atau orang yang ingin terhindar dari kondisi tersebut untuk menerapkan diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension). Penelitian yang dilakukan oleh lembaga tersebut memberikan hasil bahwa DASH dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol darah, sehingga secara otomatis menurunkan komplikasi penyakit hipertensi. Senada dengan itu, penelitian lain membuktikan bahwa seseorang yang menjalankan diet DASH dapat menurunkan tekanan darahnya dalam waktu 2 minggu.

 

Diet DASH mengutamakan beberapa hal berikut:

  • Memperbanyak konsumsi sayur dan buah.
  • Konsumsi produk olahan susu tanpa lemak atau rendah lemak.
  • Memperbanyak konsumsi ikan, daging unggas, kacang-kacangan, biji-bijian, minyak sayur dan makanan yang berasal dari gandum.
  • Batasi konsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh, kolesterol, dan lemak trans.
  • Batasi asupan garam, gula atau yang bersifat manis  (konsumsi garam dapur tidak lebih dari ¼ - ½ sendok teh/hari atau dapat menggunakan garam lain diluar natrium)

 

Adapun sajian atau porsi makanan yang direkomendasikan sebagai patokan pada diet DASH, yaitu:

  • Sayur

Konsumsi sayur sebanyak empat hingga lima sajian per hari. Kisaran per satu sajian adalah satu mangkuk sayur mentah atau setengah mangkuk sayur masak.

 

  • Buah

Konsumsi buah empat hingga lima sajian per hari. Satu sajian terdiri dari satu mangkuk buah mentah atau setengah mangkuk buah matang.

 

  • Gandum dan biji-bijian

Gandum dikonsumsi sebanyak tujuh hingga delapan sajian per hari. Satu sajian berisi setengah potong roti gandum dan setengah nasi atau pasta masak.

 

  • Produk olahan susu rendah lemak atau tanpa lemak

Asupan ini dikonsumsi sebanyak dua atau tiga sajian per hari. Satu sajian terdiri dari kurang lebih 235 ml susu.

 

  • Daging, unggas dan ikan

Daging, unggas atau ikan dapat dikonsumsi kurang dari atau sama dengan dua sajian per hari. Satu sajian berukuran kurang lebih 85 gram.

 

  • Kacang-kacangan

Ini dapat dikonsumsi sebanyak empat atau lima sajian per minggu. Satu sajian terdiri dari kurang lebih 85 gram tahu.

 

  • Minyak

Dikonsumsi sebanyak dua atau tiga sajian per hari. Satu sajian terdiri dari satu sendok teh minyak zaitun atau minyak sehat lainnya.

 

  • Makanan manis

Kurang dari lima sajian dalam seminggu. Satu sajian tidak lebih dari 1 sendok makan gula, jelly, atau selai.

 

Jika mengalami kesulitan dalam menentukan pola diet sehat untuk hipertensi, bisa berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter spesialis gizi. Ingat untuk selalu mengombinasikan pola diet sehat tersebut dengan olahraga secara rutin, istirahat cukup, dan tidak merokok atau minum alkohol.

 

Tetap sehat, tetap semangat!